What an incredible night! Dua hari lalu, tepatnya hari Jum'at 24 Juli, aku dan adikku, Hardi, menghadiri event Shout of Sound Showcase di Erion Space Kuningan. Hal ini udah kami rencanakan jauh-jauh hari sejak awal Juli lalu, itu pun adikku yang kasih info.
Hari itu, tanggal 3 Juli, Hardi ngetag aku di salah satu postingan akun Superfriends Kuningan yang mengumumkan bahwa 510, band favorit kami, akan perform di Kabupaten Kuningan.
Well, sebelum cerita tentang pengalaman kami di sana, aku pingin menceritakan dulu gimana ceritanya aku bisa mengenal band ini.
Aku lupa kapan tepatnya, tapi waktu itu sekitar tahun 2024, salah satu rekan kerja yang satu ruangan denganku ngeplay lagu-lagu rock di komputer demi mengusir rasa kantuk. Saat sebuah lagu mengalun, aku sempat tertegun sejenak demi mendengar suara yang begitu familiar: suara Faizal "Ical" Permana.
Tahun 2020 silam, yang kutau, Ical adalah vokalis baru Kilms (sebelumnya Killing Me Inside). Kilms kan dikenal sering gonta-ganti vokalis ya. Tapi bergabungnya Ical ke Kilms, membuatku berharap bahwa Ical akan jadi vokalis tetap di sana, karena menurutku, selama Killing Me Inside berdiri pasca keluarnya Sansan, Ical adalah yang paling pas. Dengerin deh lagu-lagu mereka yang Numb dan Do You See What I See. Astaga, cinta banget aku :')
Tapi rupanya, Kilms masih tetap dalam drama gonta-ganti vokalis ini. Tahun 2023, Ical hengkang dari Kilms. Aku patah hati, tapi juga nggak mencari tau Ical ke mana setelah itu. Aku pernah mencoba mendengar lagu-lagu Slap It Out, band Ical sebelum join Kilms, untuk mengobati patah hatiku, tapi ternyata kurang cocok. Kupikir Ical sempurna bersama Kilms.
Lalu ketika kudengar lagi suara Ical dari speaker komputer rekan kantorku itu, rasa penasaranku bangkit. Aku tanya rekan kerjaku itu. Agak lupa sih gimana percakapannya, tapi kira-kira gini:
Aku : "Ini lagunya siapa, Mas? Slap It Out bukan?"
Rekan Kerjaku: "Bukan, Put. Ini Lima Sepuluh".
Yakin banget bahwa itu suara Ical, aku pun mencari tau. Judul lagu itu "Mama", dibawakan oleh band post-hardcore bernama 510. Kucari tau siapa vokalisnya, dan rupanya benar... Faizal "Ical" Permana. Aku sempat pangling juga lihat look dia di 510, kayak beda orang, karena setauku dia kurus dan berambut gondrong. Tapi looknya di 510 lebih fresh, badannya lebih berisi.
Setelah itu, I finally found out bahwa 510 adalah identitas baru dari Slap It Out. 510 sendiri sekilas mirip huruf "S", "I", dan "O" yang merupakan inisial dari Slap It Out. Aku pun memfollow Ical di Instagram, tapi tidak dengan band "baru"-nya.
Lalu, aku coba dengerin lagu-lagu mereka selain Mama, kayak Esa, Mimbar, Alive, Emotional Renegades (karena itu yang ada di Top Songs mereka di Spotify kala itu). Anehnya, aku masih merasa kurang klop, karena menurutku kurang "keras". Setelah itu, aku udah nggak sengajain dengar lagu-lagu mereka lagi, palingan dengar kalo diplay sama rekan kerjaku aja. Adikku yang udah lebih dulu ngefans sama mereka sampai heran, kenapa aku sesusah itu move-on dari keberadaan Ical di Kilms
Tahun 2025, 510 merilis album baru. Ical cukup sering memposting lagu-lagu barunya, sampai akhirnya aku mendengar lagu Ritual. Part lagu yang kudengar saat itu memang bagian yang "keras" ya, dan itu yang membuatku penasaran untuk mendengar 510 sekali lagi.
Lagu ini memang dibuka dengan tenang lewat clean vokal Ical ditemani piano solo, tapi ketenangan itu kemudian terpecah oleh ledakan scream "HELP MEEEE" lalu disambut hentakan beat yang lebih agresif. Kalo boleh kubilang, dengar lagu ini tuh rasanya kayak dibawa naik roller coaster. Tenang, lalu tiba-tiba brutal, lalu tenang lagi, tiba-tiba dihentak lagi. Anehnya, hal itu yang justru membuatku jatuh cinta.
Pas part lirik yang "Follow me under the wa-teeeer" lalu disambut melodi gitar selama setengah menitan, dan disambung lirik yang dinyanyikan dengan vokal berlapis, menciptakan harmoni yang... astaga, aku susah deskripsiinnya. Vibesnya tuh kayak dengar orang yang lagi putus asa, kecewa, dan marah, lalu pas part ini muncul rasanya kayak ada harapan gitu. Lagunya berdurasi hampir enam menit, tapi sama sekali nggak membosankan buat didengar berulang-ulang.
Setelah mendengar lagu Ritual, aku menemukan Dead Clown, Collapsed, The Last Suffer, Death Parade, dan Callout yang padahal rilis sebelum Ritual ya, tapi entah kenapa aku malah lebih dulu diperkenalkan dengan lagu-lagu lain yang kubilang kurang sesuai ekspektasi itu. Padahal kalo langsung nemu lima lagu itu, hatiku bakal langsung nyangkut di mereka kayaknya. Wkwkwk.
Long story short, mereka akhirnya diumumkan bakal manggung di Kuningan. Jaraknya sekitar 38 kilometer dari tempat tinggalku. Tiketnya mulai dijual pada tanggal 8 Juli. Sebelum memesan tiket, tentunya aku meminta izin dari suamiku dulu. Kujelaskan bahwa aku akan pergi bareng Hardi, dan acaranya diselenggarakan di cafe, jadi kemungkinan besar bakal aman banget. Dan tanpa butuh merayu-rayu sedemikian rupa, ia mengizinkan. Sayangnya gara-gara menunda-nunda checkout, kami jadi kehabisan tiket presale. Nggak nyangka juga sih tiketnya bakal habis secepat itu. Jadi aku terus pantengin akun @superfriendskuningan biar gercep kalo ada info penjualan tiket kedua.
Maka di tanggal 10, sekitar jam setengah satu dini hari, 12 menit setelah @superfriendskuningan memposting pengumuman penjualan tiket online kedua, aku langsung scan barcode dan mencheckout dua buah tiket.
Meskipun tiketnya nggak langsung kuterima sesaat setelah checkout, tapi aku merasa lebih tenang, karena ternyata itu penjualan tiket online terakhir. Setelah itu, mereka hanya punya 50 sisa tiket yang dijual secara offline tanggal 18 dan 19 Juli, masing-masing 25 tiket. FYI, penjualan tiket untuk Shout of Sound di Kuningan ini yang paling laris kayaknya, karena nggak ada penjualan tiket on the spot. Tiket milik aku dan Hardi sendiri baru kami terima di H-4.
***
Dan hari itu pun tiba. Jum'at, 24 Juli, aku berangkat kerja seperti biasanya. Sedangkan Hardi memutuskan untuk izin nggak ngantor karena ia merasa kurang enak badan sejak hari Kamis sore. Jadi ia mau istirahat sekaligus memastikan kondisi motornya cukup prima sebelum menempuh perjalanan yang bisa dibilang cukup jauh ini. Well, sebenarnya sih acaranya mulai dari jam dua siang, tapi aku nggak enak kalo ambil cuti atau izin pulang cepat mengingat bulan ini aku udah beberapa kali izin untuk urusan motherhood. Toh, aku dan Hardi cuma ngincar penampilan band utama yang kemungkinan besar bakal tampil di penghujung acara, dan mereka baru close gate jam 7 malam, so, yah masih aman lah ya.
Jam lima sore kurang lima belas menit, aku mengganti baju batikku dengan kaos hitam dan jaket jeans. Begitu bel jam kerja berakhir berbunyi, aku langsung absen keluar dan melompat ke jok belakang motor Hardi yang menunggu di warung madura sebelah kantor. Perjalanan terasa nggak membosankan, karena sepanjang jalan kami bisa melihat gunung Ciremai yang berdiri gagah tanpa terhalang awan, berpadu dengan semburat jingga. Golden hour. Aku sempat mengabadikan momen itu dengan video. Ketika itu, aku harus menggenggam hapeku dengan benar-benar erat, karena angin bertiup kencang banget. Aku khawatir hapeku terbang. Udara Kuningan yang udah dasarnya dingin pun, jadi semakin dingin.
Sekitar jam enam sore, kami tiba di lokasi. Pertama-tama, kami menuju ticket booth untuk scan tiket masuk. Kami dipakaikan wristband sebagai bukti bahwa kami adalah pengunjung resmi, dan diberi dua bungkus produk sponsor berupa rokok dan satu voucher untuk ditukar dengan sebotol kopi. Setelah itu, panitia juga memeriksa tubuh dan isi tas kami untuk memastikan kami nggak membawa makanan atau minuman dari luar, dan nggak ada barang-barang berbahaya yang kami bawa, termasuk cermin dan parfum dengan botol kaca. Karena aku membawa parfum dengan botol kaca, jadi benda itu harus dititipkan ke panitia. Kami juga diminta untuk memastikan nggak ada barang yang tertinggal di kendaraan, karena kalo udah masuk, kami nggak boleh keluar dan masuk lagi.
Setelah menjalani prosedur scan tiket dan pemeriksaan, kami pun masuk. Rupanya suasana udah lumayan rame. Nggak ada meja kosong untuk kami tempati, jadi setelah menukar voucher dengan kopi, aku dan Hardi duduk-duduk di undakan menuju venue bareng beberapa pengunjung lainnya yang juga nggak kebagian tempat. Waktu itu suasana sedang istirahat. Jujur, meski bukan pertama kalinya hadir ke acara musik (tapi ini acara Hellprint pertama yang aku dan Hardi datangi), rasanya sedikit nervous. Itu lah kenapa, selama di sana aku memutuskan untuk memakai masker, karena selain meminimalisir terhirupnya asap rokok, memakai masker juga ajaibnya bisa sedikit mengurangi rasa gugup.
Singkat cerita, acara kembali dimulai. Masih menampilkan band-band lokal. Band lokal pertama yang kami lihat saat itu adalah band punk hardcore bernama Monarki, yang membawakan lagu milik mereka sendiri berjudul "Maniak Api". Meskipun membawakan lagu sendiri, tapi beberapa penonton tampak nggak ragu maju ke depan panggung untuk melakukan moshing, atau sekadar lompat-lompat di bibir panggung. Sebagian lagi menonton dari kejauhan sambil menggerakkan kaki dan headbang tipis-tipis. Aku termasuk dalam golongan yang memilih menonton dari kejauhan ini.
Setelah Monarki, ada penampilan dari band Ashes Vireth. Band ini menarik buatku. Vokalisnya cewek yang masih sangat belia. Usianya mungkin masih belasan atau awal dua puluhan. Wajahnya kawaii gitu, dari segi fisik lebih cocok jadi vokalis J-Pop. Tapi yang membagongkan, malam itu dia bawain lagu hardcore yang nggak ada clean vokalnya sama sekali. Badass!!
Lalu ada One Blood. Band ini punya dua vokalis, cewek-cowok. Mereka membawakan lagu yang liriknya menyentil orang-orang yang suka cari muka di lingkungan kerja. Jujur, aku suka banget sama style vokalis ceweknya. Dia pakai outfit dominan hitam berupa outer crop asimetris dipadu inner berwarna merah, celana longgar dengan aksesori rantai perak di pinggang, turban hitam, dan gelang. Looknya kayak gothic streetwear gitu. Keren, naksir banget aku. Ini style yang kepingin banget aku pakai (kecuali bagian turban), tapi aku nggak punya cukup rasa percaya diri buat pakainya. Lagipula celana gombrong malah bikin tubuhku yang kecil dan pendek ini makin tenggelam kali yah.
Selanjutnya ada Breeze. Vokalisnya cowok, dan punya vokal yang unik. Suaranya tinggi melengking gitu.
Yang terakhir, ada Twistlet. Band yang vokalisnya cewek berkacamata ini membawakan lagu yang liriknya lagi relate banget sama kondisi negeri kita saat ini, judulnya Hajar Jahanam.
Oiya, setiap kali jeda pergantian band, MC bakal mengisinya dengan mewawancara satu pengunjung yang datang. Lucunya, setiap kali MC mencari satu pengunjung buat diwawancara ini, orang-orang, termasuk aku dan Hardi bakal mundur menjauh, karena takut bakal dipilih. Wkwkwk. Sebenarnya MC cuma nanya-nanya sedikit dan sesimple, "Tujuan datang ke sini mau lihat performnya siapa?", atau "Gimana kesannya datang ke acara ini?", tapi kadang MC juga iseng minta yang diwawancara buat nyanyi atau two-step gitu. Wkwk.
Sekitar jam setengah sembilan, naik Mustika Kamal. Vokalis band W.A.I.T yang juga akrab dipanggil "Mimi" ini adalah salah satu guest yang aku tunggu performancenya. Sayangnya aku kurang cepat mengambil tempat di dekat stage. Malam itu dia menciptakan emo night vibes dengan mengcover tiga lagu: I Don't Love You (MCR), Decode (Paramore), dan All The Small Things (Blink-182). I Don't Love You pecah bangeeett doong, karena hampir semua penonton ikut sing along. Malam itu aku baru banget merasakan betapa puasnya menyanyikan lagu favorit selepas itu, sangat berbeda rasanya dengan cuma karaoke. Entahlah, aku juga bingung gimana menjelaskannya. Yang jelas kayak ada sensasi berdebar-debarnya gitu.
![]() |
| Penampilan Mustika Kamal membawakan "Decode" |
Setelah penampilan seru Mimi, ada jeda sekitar setengah jam sebelum penampilan puncak dari band utama, 510. Jeda yang lumayan panjang ini membuat kerumunan penonton di depan stage melonggar, sehingga memberi kesempatan untuk aku dan Hardi untuk maju. Sambil menunggu, kami berfoto-foto sejenak. Awalnya Hardi yang memfotoku, dia sendiri nggak mau aku fotokan. Malu. Lalu tiba-tiba sepasang cowok-cewek menawarkan diri untuk memfotokan kami berdua. Hardi sedikit ragu, tapi kubujuk, buat kenang-kenangan. Apalagi meskipun sibling, kami jarang banget berfoto bareng, khususnya foto berdua gitu. Setelah mengambil foto dua kali, aku gantian memfotokan mereka berdua.
Di menit-menit terakhir menjelang 510 naik, Hardi mendorongku semakin mendekat ke depan panggung. Nggak di depan panggung banget sih, tapi bisa dibilang cukup dekat lah. Tiba-tiba...
"Lho, Putri!" seorang laki-laki di sebelahku tampak terkejut melihatku. Surprisingly, dia mengenaliku meskipun aku memakai masker. Eh tapi mungkin karena ada Hardi juga sih. Dia merupakan kenalan kami. Tapi ketika itu, jujur aku agak canggung karena saat itu dia terlihat dalam kondisi teler, yang kurasa bukan teler karena minuman mengingat cafe itu nggak menjual minuman beralkohol, dan nggak memperkenankan pengunjung membawa minuman dari luar. Setauku dia mengkonsumsi obat psikiatri untuk mengatasi gangguan kecemasan. 15 tahun silam, aku pernah punya kenalan lain yang juga mengkonsumsi obat-obatan semacam itu untuk mengatasi masalah yang sama. Dia bilang efeknya bisa membuat seseorang menjadi seperti "zombie". Aku nggak tau apakah "zombie" yang dia maksud adalah "teler" seperti itu. Tapi kalo dikonsumsi sesuai resep dokter, harusnya nggak akan seteler itu kan? Well, entahlah.
Anyway, tibalah saatnya Ical CS perform. Musik Where Do We Came From mengalun. Kami dag-dig-dug menunggu para personil muncul, sebelum akhirnya mereka naik satu per satu. Ical muncul paling akhir. Ketika ia naik sambil melambaikan tangannya, aku menjerit, "ICAAAALL!!", yah meskipun aku sadar banget suaraku nggak akan terdengar sama dia. Wkwkwk. Aku bersyukur banget karena di posisiku itu, aku bisa melihatnya dengan cukup jelas, meskipun kadang juga ketutupan kepala orang. Hahaha. Malam itu dia mengenakan celana jeans panjang warna hitam, dan kaos raw hem sleeveless warna abu-abu gelap, sehingga terlihat jelas tato-tato di lengannya.
Setelah cukup dengan dadah-dadahan itu, Ical mengangkat mikrofon ke depan mulutnya dan berteriak, "WE'RE ALL...!" dan langsung disambut penonton, ".... DISASTER! SO COME LIT UP THE FIRE!!"
Sejurus kemudian, barisan penonton pun mulai membentuk crowd wave di mana kami melompat dan headbang bareng mengikuti hentakan lagu Collapsed.
![]() |
| "Collapsed" |
The Last Suffer dan Mama menambah atmosfer menjadi lebih panas. Di bagian chorus Mama, semua penonton ikut sing along.
Yang paling kusuka adalah saat Dead Clown dan Ritual. Gila, pecaaaahh banget!
Di tengah-tengah Dead Clown, seperti yang sering kulihat di video performance mereka sebelumnya, tiba-tiba muncul seorang tokoh badut. Badut ini mondar-mandir di atas stage, berinteraksi dengan kami dan juga Ical, sampai akhirnya menjelang klimaks, Ical melakukan adegan seolah-olah meng-headshot si badut. Well, meskipun ini bukan pertama kalinya aku lihat adegan itu, tetap aja rasanya seru banget ditonton secara langsung. Apalagi si Ical benar-benar pakai properti berupa pistol mainan gitu. Ya know, kayak lagi nonton sebuah pertunjukan teatrikal yang diselipkan di tengah konser.
![]() |
| Detik-detik menjelang Mr Clown di-headshot di "Dead Clown" |
Masuk ke Ritual, suasananya berubah lagi. Seperti yang udah kuceritakan sebelumnya, lagu ini memang favoritku sejak pertama kali mendengarnya. Tapi melihatnya dibawakan secara live ternyata jauuuuh lebih memuaskan. Di bagian klimaks, aku melihat sebagian penonton udah membentuk circle pit. Lalu beberapa penonton cowok mulai berlari memutari lingkaran itu sebelum akhirnya saling bertabrakan dan moshing. Lumayan brutal sih kelihatannya, tapi tetap terkendali. Posisiku tepat berada di depan circle pit itu. Jujur sempat deg-degan juga takut tiba-tiba ada yang menabrakku. Untungnya enggak. Alhamdulillah.
![]() |
| Circle pit saat "Ritual" |
Surprisingly, aku juga suka banget vibe saat Mimbar dibawakan. Lagu ini bukan lagu 510 yang sering kuputar, karena kurang sesuai ekspektasiku. Tapi ternyata... this song hits different when it's played live. Asli, merinding banget waktu masuk bagian piano + petikan gitar gitu, lalu hampir semua penonton kompak menyanyikan part,
"Ku tau kau memikulnya... kurasakan hal yang sama... Kita terkurung dalam duka lara..."
Mendengar penonton sing along di bagian itu sambil mengangkat tangan ke udara benar-benar menciptakan suasana yang susah dijelaskan. Momen itu jadi salah satu favoritku malam itu.
![]() |
| "Mimbar" live hits different <\3 |
Nggak terasa, satu demi satu lagu berlalu. Malam itu 510 membawakan sebelas lagu secara berurutan: Where Do We Came From, Collapsed, The Last Suffer, Mama, Plastic Faith, Esa, Sorry, Dead Clown, Ritual, Mimbar, dan ditutup dengan Emotional Renegades. Menurutku susunan setlistnya enak banget. Energinya naik terus, sempat diturunkan sedikit di Esa, dibikin galau massal di lagu Sorry, lalu dibakar lagi sama Dead Clown dan Ritual, agak turun lagi sedikit di Mimbar, lalu ditutup lagi dengan ledakan energi di Emotional Renegades.
BTW ada momen lumayan berkesan saat 510 membawakan lagu terakhir ini. Menjelang akhir lagu, Ical tiba-tiba membalikkan badan membelakangi penonton, lalu menjatuhkan dirinya ke arah kami. Stage dive!
Untungnya aku nggak berada tepat di bawah posisi saat ia menjatuhkan diri. Tapi tangan-tangan penonton yang menopang tubuh Ical perlahan menggiringnya ke arah tempatku berdiri, membuatnya crowd surfing di atas kami. Dan tau-tau... aku berada tepat di bawah punggungnya. Wkwkwkwk. Untung tubuh seukuran botol Yakult ini nggak ketimpa beneran. Yah, cuma oleng dikit.
![]() |
| Momen Ical stage-diving di "Emotional Renegades" |
Sepanjang penampilan 510 itu juga, Hardi always had my back. Posisi dia selalu berdiri tepat di belakangku. Kadang kedua lengannya terulur di kanan dan kiriku buat menghalau orang-orang yang terdorong saat moshing. Bahkan kenalan kami yang teler itu berkali-kali melakukan crowd surfing, dan berkali-kali juga jatuh menimpa penonton. Jadi keberadaan Hardi di belakangku lumayan menyelamatkanku sih.
Oiya, karena malam itu Mustika Kamal dan 510 sama-sama menjadi special guest, aku sempat berharap mereka bakal membawakan Deeper Than The Ocean. Tapi ternyata, enggak. Yaah, bisa dipahami sih. Lagu itu terlalu mellow. Kalo dibawakan di tengah gigs yang sedang panas-panasnya, mungkin malah jadi kurang pas yah.
Anyway, soal kenalan kami itu, ada satu hal yang baru kami sadari setelah acara selesai.
Pas awal ketemu di tengah kerumunan, dia sempat ngomong sesuatu soal "dokumentasi". Karena dia ngomong sambil teler, aku dan Hardi sama-sama nggak menangkap apa maksudnya. Setelah acara selesai kami baru ngeh. Rupanya yang dimaksud "dokumentasi" itu adalah foto bareng para personil 510 dan teman-teman komunitas 510 Squad.
Memang benar sih, mereka ada sesi foto bareng setelah acara. Tapi yaa... kami nggak nyesel juga sih nggak join. Soalnya jujur aja, bahkan kalopun waktu itu kami paham maksud ajakannya, kemungkinan besar kami tetap bakal nolak. Bukan karena nggak mau, tapi lebih karena malu dan canggung aja 😂
Sekitar jam sepuluh malam, acara akhirnya benar-benar selesai. Sebelum pulang, aku dan Hardi menyempatkan diri foto-foto sekali lagi di sekitar venue, sambil menonton hasil fancam kami, dan sesekali ngetawain suara sumbang diri sendiri yang ikut kerekam. Wkwkwk. Dari situ aku belajar, lain kali kalo ambil fancam, mending mulut ini diam kali ya 😂
Setelah itu kami berjalan menuju parkiran. Di perjalanan menuju parkir itu, kami ketemu lagi dengan kenalan kami tadi. Kondisinya masih sedikit teler. Dia sempat memanggilku dan bertanya apakah kami langsung pulang malam itu. Setelah basa-basi bentar, aku pun pamit.
Well, kalo dipikir-pikir, lucu nggak sih? Awalnya aku sempat susah move on dari Ical versi Kilms. Bahkan sempat merasa lagu-lagu 510 kurang cocok di kupingku. Tapi beberapa tahun kemudian aku justru berdiri di barisan depan, ikut headbang, ikut sing along, menyaksikan langsung penampilan mereka, bahkan nyaris ketimpa Ical saat crowd surfing. Wkwkwk. Yah, mungkin memang benar sih ya, kadang kita butuh waktu buat jatuh cinta sama sesuatu yang sebelumnya belum bisa kita nikmati.
Dan satu hal yang paling kusyukuri malam itu bukan cuma akhirnya bisa nonton live performance 510, tapi juga bersyukur bisa hang out bareng sibling, mengingat jarang banget kami spending time berdua selama ini. Rasanya menyenangkan punya seseorang yang sama-sama menikmati musik yang kita suka.
Sumpah, puaaaas banget rasanya. I wish this isn't my last Hellprint experience🤘


















.jpeg)



.jpeg)






























- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact